Senja yang begitu indah, seindah suasana hatiku saat ini. Tak ada sedikitpun yang bisa menghapus indahnya suasana hati ini. Aku duduk ditepian pantai memandangi biduk yang berlayar di antara riak ombak, begitu tenang menggapai pulau harapan. Layarpun berkembang di antara kicauan burung camar yang melambai di antara cakrawala yang indah dan megah. Ku pandangi pulau kecil di antara riak ombak, begitu pasrah pada detak-detak hati. Ombakpun menghentak di antara bebatuan, di ikuti hentakan hati yang membuyarkan lamunanku.
Tak ku sadari semilir angin malam telah menghampiri. Mengungkap semua perasaan yang ada. Ku ayunkan kaki melangkah kembali ke peraduanku. Sebuah kamar sederhana menjadi tempat dimana aku mencurahkan semua kegundahan hatiku. Ku buka tiap lembaran kertas yang terukir penuh kisah cintaku. Ku coba mengukir kembali kenangan yang dulu hingga tak sadar air bening menetes di kedua pipiku. Butiran bening itu tak mampu terbendung lagi. Perasaan yang dulu telah lama sirna, kini hadir kembali menghampiri jiwa yang lara ini. Penyesalan tiba menguasai lubuk hati yang paling dalam di ikuti misteri yang tak pernah berujung, yang terus mencekam dalam naluri hatiku. Ternyata perjalanan kita belum mampu menjangkau sebuah isi hati yang tak dapat di baca dan di pahami isinya, kesalahan yang sempurna sebab keberadaan kita, ketajaman mata, kekerasan hati, dan keegoisan mengiris segala kesepianku. Kembalinya sebuah ingatan menyimpan sebuah percakapan kita di antara sepasang hati yang tak bermakna, serupa bunga yang tak kunjung mekar. Begitu sulit aku mengeja setiap huruf di kabut cakrawala sehingga tertulis kata “CINTA SEJATI”. Tapi, semua waktu itu terisi penuh oleh air mata. Ketika goresan sunyi menyisir waktu hingga luka berserak di hempar sunyi dan takdir cinta ini yang selalu menarik pertengkaran. Apakah mungkin dengan perpisahan semuanya akan indah????......
Dulu kita begitu riang menjalani kebersamaan kita dengan berbalut pesona indah kabut senja di cakrawala. Mentari senja menjadi saksi indahnya kebersamaan itu. Tapi, sekarang semuanya telah sirna. Aku telah tertipu oleh janji palsu yang pernah terucap dari bibirmu. Janji itu telah membutankanku, hingga tak ku sadari betapa naifnya diriku untuk mengakui semua itu. Lalu kemanakah ayat-ayat cinta buah keringat kita di waktu dulu????.... sepertinya semuanya akan tumbang dan tenggelam dalam laut-laut bimbang bersama ombak di ujung pantai. Kini kita semakin asing ketika kita berdiri berhadapan, sambil menikmati beberapa tumpukan pertengkaran, memuntahkan amarah bagaikan bara api yang membakar kenyamanan percintaan yang dulu begitu indah kita puja bersama. Pertengkaran itu mengubah semuanya. Mungkinkah kita belum memaknai makna kebersamaan????...... mengingat waktu bersamamu bagai meredam badai dalam hati. Sesungguhnya aku rindu ingin melihatmu, sekalipun hanya dalam ingatan mimpi burukku. Sekedar nama pembalut luka yang sempurna.
Tapi kusadari, itu semua hanyalah anganku. Ku harus mengubur semua kenangan tentang kita. Kenangan manis yang dulu disaksikan kabut senja di ujung cakrawala telah sirna, semua hilang, lenyap, bersama tenggelamnya mentari di ufuk barat. Semua telah terhapus dari ingatanku. Kabut senja di cakrawala menjadi saksi bisu tentang perjalanan cintaku yang berakhir pilu.....
Perjalanan kita tak mampu menjangkau lagi kenangan tentang kita. Saat perjuangan kita dulu menjalin kebersamaan hingga kata-kata yang di ucapkan orang seakan bagaikan angin lalu. Yang kita tau hanyalah indahnya kebersamaan dan kisah cinta kita berdua. Kita juga bahkan lupa siapa diri kita sebenarnya?. Aku sering teringat akan kata-kata yang sering kau ucapkan dulu, meskipun sekarang kata-kata itu hanya menjadi kenangan dan duri dalam ingatanku. Harapan yang pernah kau tanamkan dulu, kini telah hilang bersama hilangnya perasaan yang ada dalam hatiku. Dahulu, kenangan indah yang telah kita buat bersama menjadikan aku semangat menjalani hidup ini. Aku selalu berharap akan menghabiskan hari-hari indahku bersamamu, dan tak mau melewatkan waktu itu meski sedetikpun. Ku tepiskan semua rasa yang ada agar kubisa menjalaninya dengan penuh cinta. Kupercayakan semua hati dan perasaan ini padamu untuk kau juga dan mengabadikannya dalam hatimu.
Sekarang, kuhanya bisa duduk sendiri dalam keheningan. Kupandangi sinar redupnya bulan dan bintang malam. Ingin ku ukir semua kenangan yang telah ada selama ini. Kesakitan hati dan kekecewaan jiwa menyelimuti hati. Ingin ku utarakan kata dan rasa yang terpendam. Ingin ku ikuti panggilan hati untuk melupakanmu. Tetapi, sampai sekarang jiwa masih terasa berat karena hati telah terlanjur terperangkap dalam kehidapanmu. Aku belajar untuk menerima keadaan agar aku bisa melawan rasa yang terlalu dalam dihatiku. Hati ini terlalu takut untuk kehilanganmu. Dan semua itu telah terjadi padaku sekarang. Seandainya kubisa memulailagi dari awal, akan kugandrungi lagi kehidupan dan kebersamaan kita dulu dalam sebuah cerita cinta agar abadi selamanya. Kujalani hari-hariku dengan penuh tangis dan tawa. Senyuman dibibir hanya tertuah sementara. Ingin kuberkata-kata tapi tak tau apa yang akan ku ucap. Semuanya hanya terbungkam. Akankah cerita kita dulu akan terulang lagi? Spertinya semua hanya akan menjadi kenangan manis dalam cerita hidupku. Ku harus mengubur semua itu dalam-dalam. Kenangan tentangmu hanya sampai disini saja. Akupun akan pergi menjauh meninggalkan semuanya. Selamat jalan kenangan pahit, aku akan mengukir kenangan manis bersama mentari yang selalu setia menemani cakrawala saat senja.
“hanya sekeping kenangan pahit yang akan menuntun tanganku menuju kenangan yang lebih

